BREAKING NEWS
Loading...

Desember


Bukan aku ingin melupakan sebuah indah yang pernah tertera dalam semua dinding hati yang ada, cinta tak begitu mengagumkan. Mataku tertutup rapat, berharap mimpi yang aku inginkan menjadi nyata. Berakali aku tersandung dalam kenyataan yang berkali membuat goresan panjang dalam hati ketika terbangun dari mimpi. 

“Apa yang membuatmu begitu lirih, hingga menularkan perih, bukankah kita bisa saling mengobati, daripada saling meracuni” seakan rasaku terwakilkan oleh sebuah kata dari sang pujangga yang pernah mengalami hal yang sama. Selirih itukah sehingga kau tularkan perih ?

Kembali aku menyakinkan, bahwa akulah seorang yang benar-benar ingin membuatmu bahagia tiap detiknya. Seakan tak peduli, kau terus berlari menjauh dari ruang dalam hati yang ku tata menjadi indah untukmu merasa nyaman berada di dalamnya. Aku terpapah, perih saat ingin melangkah. Kau tetap menjauh, mengejar ingin yang kau harap menjadi indah dalam hidupmu. Lalu, apa ruang yang ku tata untukmu tak terlalu indah untuk kau tempati ?

Kau tak peduli, aku mengurung diri. Merebah lelah di pelataran surga yang sebenarnya ku ciptakan untuk kita berdua ketika lelah menghadapi nyata untuk hari yang kita lalui. Sendirian, dengan harap yang terbang menjauh dari kenyataan yang keberadaannya enggan aku inginkan. Apa aku membuat kekeliruan sehingga kau ingin beranjak dari dekap hangat yang ku ciptakan ?

Sekarang, diantara kita terhampar jarak yang takan terhitung walau kita sedang berhadapan. Aku, lebih enggan menatap indah yang dulu ku anggap, karena sekarang menjadi sakit yang teramat sangat ketika sepasang mata melihatnya dari jarak yang cukup dekat, tapi, lagi-lagi aku nikmati sakit yang ada. Sebagian orang berkata “Melangkahlah, banyak indah yang tuhan sediakan untukmu jika kau merelakan indah yang dulu kau anggap demikian” Tapi, melangkah tak semudah itu.

Aku masih menikmati ini, sebuah perih yang terasa lebih sakit dari apapun yang ada, mungkin. Di hari itu, aku rela menjadi sayap untuk ku ajak kau terbang dari keterpurukan yang kau rasa. Sekarang, biarkan aku menikmati keterpurukan yang kau sisakan untukku, karena sayapku tak banyak membantu agar aku terbang meninggalkan sakit yang kau berikan.

29 komentar: Leave Your Comments

  1. Kaya judulnya gak cocok deh. Isinya lebih mengarah ke "catatan dari seseorang yang terpuruk".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi catatan itu ada dibulan desember. Hehe

      Hapus
  2. Er... bisa nggak deket2 puasa gini jangan bikin baper... :'(
    lagian...desember masih jauh... xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gabakal haw, paling nanti gue bikin laper yang baca. Hahaha

      Sekarang mah bulan kebulan berasa cepet loh haw =D

      Hapus
  3. Antologi bikin gih...mayan kan kloo dikumpulin tu puisi2nya terus jd buku deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum PD mbak, sama tulisanku. Jadi masih ragu nih buat nerbitin buku tentang puisi gitu.

      Hapus
  4. Sebagaimana ia hanya tahu, bahwa puisi ciptaanmu yang paling manis itu, yang kelak ingin selalu dibacanya dalam-dalam. Dikabarkannya kepada angin, sebab berderai sudah air matanya karena lelah berupaya.

    Ialah ratu yang bertahta di hatimu.
    Maka, apabila melangkah memang tak semudah itu, kiranya kan berhembus angin kebaikan, yang kelak membuat sayap-sayapmu terbang melalui garis edarnya. Sebab perih, tak selamanya harus kau nikmati sendiri.

    Bang Erdi tulisannya syahdu bangettttt~~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namun ratu itu engga kembali mengisi tahta yang ku sediakan. Namun ia kembali menuju tahtanya yang lama, yang ia rasa lebih nyaman mungkin, berada dipelukan itu.

      Ah dara, komentarmu juga kereen \m/

      Hapus
  5. Gue masih meraba raba . . apa hubungan judul postingan lo sama isinya er . ,
    maafkan aku yang buta sastra ini yess . .??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha =D
      Jadi, itu tentang apa yang ada di bulan desember, tapi sama sekali gak gue ceritain tentang bulannya itu, ka.

      Hapus
  6. Judulnya bulan Desember, tpi isinya curhatan hati yang lgi Galau :D

    BalasHapus
  7. Galau nya terjadi pas bulan Desember tahun lalu ya mas? karena itu judulnya Desember.

    heheee
    nebak -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, lan. Tebakannya tepat. =D

      Hapus
    2. yeeeee

      aku udah cocok belum jadi peramal? :D

      Hapus
    3. Kamu lebih cocok jika segera dilamar kekasihmu, lan. Haha

      Hapus
  8. Hmm, itu curahan hati ya mba, galau memang selalu di rasakan oleh semua orang .. hehe

    BalasHapus
  9. Ini sudah bulan Mei, apakah kau masih merebah lelah di pelataran surga dan menikmati perih yang ia sisakan, Di?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini cuma segelintir rasa yang tiba-tiba datang lagi. Tapi aku nya mah udah bisa~ :D

      Hapus
  10. Desember kelabu, menjadi inspirasi catatan yang tertuang saat ini.
    Salam!

    BalasHapus
  11. Bulan Mei tapi judulnya Desember. Nggak nyambung, Er!

    Apalagi pas gue baca puisinya. Duh. Ngena banget. Kurang cocok judulnya, ah. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga sengaja inget desember, yog, mangkanya ngasih judul itu. ngahahaha :v

      Hapus
  12. Desember yang penuh kenangan :))

    BalasHapus